Minggu, 24 September 2017

Artificial Intelligence


Tugas


Nama :  Amalia Nur Syamsina
Kelas  :  3KA23
Npm   :  10115604

==============================================

ARTIFICIAL INTELLIGENCE




                    I.      SEJARAH

Kata “intelligence” berasal dari bahasa Latin “intelligo” yang berarti “saya paham”.  Berarti dasar dari intelligence ialah kemampuan untuk memahami dan melakukan aksi. Dan arti kecerdasan adalah kemampuan untuk mengerti/memahami (The faculty of understanding).

Istilah AI (Artificial Intelligence) pertama kali dikemukakan pada tahun 1956 di konferensi Darthmouth. Sejak saat itu, AI terus dikembangkan sebab berbagai penelitian mengenai teori-teori dan prinsip-prinsipnya juga terus berkembang. Meskipun istilah AI baru muncul tahun 1956, tetapi teori-teori yang mengarah ke AI sudah muncul sejak tahun 1941. Berikut tahapan-tahapan sejarah perkembangan AI :

Era Komputer Elektronik (1941)

Pada tahun 1941 telah ditemukan alat penyimpanan dan pemrosesan informasi. Penemuan tersebut dinamakan komputer elektronik yang dikembangkan di USA dan Jerman. Komputer pertama ini memerlukan ruangan yang luas dan ruang AC yang terpisah. Saat itu komputer melibatkan konfigurasi ribuan kabel untuk menjalankan suatu program. Hal ini sangat merepotkan para programmer.

Pada tahun 1949, berhasil dibuat komputer yang mampu menyimpan program sehingga membuat pekerjaan untuk memasukkan program menjadi lebih mudah. Penemuan ini menjadi dasar pengembangan program yang mengarah ke AI.

Masa – Masa Persiapan  Artificial Intelligence (1943-1956)

Pada tahun 1943, Warren McCulloch dan Walter Pitt mengemukakan tiga hal :

         1.  Pengetahuan fisiologi dasar dan fungsi sel syaraf dalam otak.     
         2.   Analisa formal tentang logika proposisi.   
         3.   Teori komputasi Turing.

      Mereka menunjukkan bahwa setiap fungsi dapat dihitung dengan suatu jaringan sel syaraf dan bahwa semua hubungan logis dapat diimplementasikan dengan struktur jaringan yang sederhana.
     
      Pada tahun 1950, Nobert Wiener membuat penelitian mengenai prinsip-prinsip teori feedback.
    
   Pada tahun 1956, John McCarthy bersama Minsky, Claude Shannon dan Nathaniel Rochester   membuat program yang mampu berpikir non-numerik dan menyelesaikan masalah pemikiran yang   dinamakan Principia Mathematica. Hal ini menjadikan McCarthy disebut sebagai Father of Artificial Intelligence.


Awal Perkembangan Artificial Intelligence (1952-1969)

a.  Tahun pertama perkembangan AI diawali dengan sebuah program yang disebut General Problem Solver,yaitu program yang dirancang untuk memulai penyelesaian masalah secara manusiawi.
b.   Pada tahun 1958, McCarthy membuat program yang dinamakan Programs with Common Sense,yaitu program yang dirancang untuk menggunakan pengetahuan dalam mencari solusi.
c.  Pada tahun 1959, Nathaniel Rochester mengeluarkan program Geometry Theorm Prover, yaitu program yang dapat mengeluarkan suatu teorema menggunakan aksioma-aksioma (suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti) yang ada.
d.  Pada tahun 1963, James Slagle mampu menyelesaikan masalah integral tertutup untuk mata kuliah kalkulus.
e.  Pada tahun 1986, Tom Evan membuat program yang mampu menyelesaikan masalah analogi geometris yang ada pada test IQ.

Perkembangan Artificial Intelligence Melambat (1966-1974)

Prediksi Herbert Simon pada tahun 1957 menyatakan bahwa AI akan menjadi ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat ternyata meleset pada tahun – tahun ini perkembangan AI menjadi sangat lambat.

Artificial Intelligence Menjadi Sebuah Industri (1980-1988)

Industrialisasi AI diawali dengan ditemukannya expert system (sistem pakar) yang dinamakan R1 yang mampu mengkonfigurasi sitem sistem komputer baru.


  
                    I I.   DEFINISI

Artificial Intelligence atau yang lebih sering disingkat dengan AI merupakan kecerdasan buatan/bikinan atau sebuah kecerdasan yang ditanamkan dalam sistem yang dapat dikelola dalam konteks ilmiah atau Artificial Intelligence (inteligensi artifisial). AI bisa juga diartikan sebagai kecerdasan yang berwujud ilmiah. Sistem yang dibenamkan AI biasanya adalah sistem yang berkaitan dengan komputer atau robot.

AI sendiri dibuat dan dibenamkan dalam mesin komputer supaya ia bisa mengerjakan pekerjaan layaknya manusia. Hal ini tentu saja akan mempermudah dan mempersingkat suatu pekerjaan agar lebih praktis dan efisien dalam menghemat waktu pengerjaan. Namun begitu, bukan berarti AI adalah robot yang selalu bekerja membantu manusia. Tetapi AI juga termasuk dalam pelbagai bidang seperti sistem expert, logika fuzzy, video games (permainan), robotika dan syaraf tiruan.

                       III.   Contoh Artificial Intelligence


1.      Natural Language Processing (NLP)

NLP mempelajari bagaimana bahasa alami itu diolah sedemikian hingga user dapat berkomunikasi dengan komputer.


2.      Robotika dan Sistem Navigasi
Bidang ilmu inilah yang mempelajari bagaimana merancang robot yang berguna bagi industry dan mampu membantu manusia, bahkan yang nantinya bisa menggantikan fungsi manusia. 

3.      Game Playing
Game biasanya memiliki karakter yang dikontrol oleh user, dan karakter lawan yang dikontrol oleh game itu sendiri. 

4.      Sistem Pakar
Bidang ilmu ini mempelajari bagaimana membangun sistem atau komputer yang memiliki keahlian untuk memecahkan masalah dan menggunakan penalaran dengan meniru atau mengadopsi keahlian yang dimiliki oleh pakar. 

5.      Computer Vision
Bidang yang mencakup metode untuk memperoleh, mengolah, menganalisis, dan memahami data visual seperti gambar dan video. 


 SUMBER
http://blog.rumahproject.com/2016/11/27/contoh-penerapan-kecerdasan-buatan-ai-dalam-kehidupan/











Sabtu, 17 Juni 2017

Service Level Agreement (SLA) & Operational Level Agreement (OLA)




Service Level Agreement (SLA)


Definisi SLA,
SLA adalah singkatan dari Service Level Agreement, dimana pengertiannya secara umumnya adalah bagian dari perjanjian layanan secara keseluruhan antara 2 (dua) entitas untuk peningkatan kinerja atau waktu pengiriman harus di perbaiki selama masa kontrak. Dua entitas itu biasa dikenal sebagai penyedia layanan dank lien, dan dapat melibatkan perja njian secara hokum karena melibatkan uang,atau kontrak lebih informal antara unit-unit bisnis internal.

Pembuatan SLA,
Sebelum membuat SLA, terlebih dahulu harus dipahami dahulu tentang unsur- unsur yang terkait SLA yaitu Supplier, Input, Proses, Output, dan Costumer (SIPOC). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:



ü     Supplier merupakan pihak yang memberikan sumber daya kepada organisasi untuk menjalankan      proses menghasilkan produk/layanan;
ü   Input adalah segala sumber daya yang digunakan dalam proses menghasilkan produk/layanan,  meliputi Manusia, Mesin, Metode, Material dan Lingkungan (Mother Nature);
ü  Proses merupakan serangkaian aktivitas untuk menghasilkan produk/layanan, meliputi Proses Utama  yaitu proses yang dilakukan untuk menghasilkan produk; Proses Pendukung yaitu proses yang  dilakukan untuk mendukung proses utama; dan Proses Manajemen yaitu proses yang dilakukan  untuk menyempurnakan proses utama;
ü       Output adalah berupa produk/layanan yang dihasilkan dari suatu proses; dan
ü       Costumer adalah pihak yang menerima/membutuhkan produk/layanan dari suatu organisasi.

Tingkatan dalam SLA,

ü  Customer-based SLA: Kesepakatan dengan kelompok pelanggan individual, yang mencakup semua layanan yang mereka gunakan. Misalnya, SLA antara pemasok (IT service provider) dan departemen keuangan dari sebuah organisasi besar untuk layanan seperti sistem keuangan, sistem penggajian, sistem penagihan, sistem pengadaan / pembelian, dll.

ü   Service-based SLA: Kesepakatan untuk semua pelanggan yang menggunakan layanan yang dikirimkan oleh penyedia layanan. Sebagai contoh:
·   Penyedia layanan bergerak menawarkan layanan rutin kepada semua pelanggan dan menawarkan perawatan tertentu sebagai bagian dari penawaran dengan pengisian universal.
·         Sistem email untuk keseluruhan organisasi. Ada kemungkinan kesulitan yang timbul pada jenis SLA ini karena tingkat layanan yang ditawarkan dapat bervariasi untuk pelanggan yang berbeda (misalnya, staf kantor pusat mungkin menggunakan koneksi LAN berkecepatan tinggi sementara kantor lokal mungkin harus menggunakan jalur leased line yang lebih rendah) .

ü  Multilevel SLA: SLA dibagi ke dalam tingkat yang berbeda, masing-masing menangani beragam pelanggan untuk layanan yang sama, dalam SLA yang sama.
·    Corporate-Level SLA: Meliputi semua manajemen tingkat layanan generik (sering disingkat SLM) yang sesuai untuk setiap pelanggan di seluruh organisasi. Isu-isu ini cenderung kurang stabil dan pembaruan (review SLA) kurang sering dibutuhkan.
· Customer-Level SLA: mencakup semua masalah SLM yang relevan dengan kelompok pelanggan tertentu, terlepas dari layanan yang digunakan.
·   Service-Level SLA: mencakup semua masalah SLM yang relevan dengan layanan spesifik, sehubungan dengan kelompok pelanggan khusus ini.

Mengapa SLA dibutuhkan

SLA dibutuhkan jika dilihat dari sisi Penyedia layanan adalah sebagai jaminan atas service yang diberikan kepada klien, sehingga klien tersebut bisa puas atas layanan yang diberikan, dampak lain yang akan muncul dari sisi penyedia layanana adalah konsep pemasaran tradisional yaitu pemasaran dari mulut ke mulut , maksudnya adalah klien akan memberikan rekomendasi kepada temannya/ rekan lainnya bahwa layanan yang diberikan oleh penyedia tersebut bagus, sehingga berharap teman/ rekan lainnya mau berlangganan kepada provider/ penyedia layanan tersebut

Dari sisi Klien adalah menjamin aspek ketersedian  (availability) informasi(kalau kita mengacu kepada konsep informasi yang berkualias, adalah mengacu kepada availability, accurate, Update). Sehingga pihak klien merasa terbantu dengan ketersediaan layanan yang diberikan oleh pihak provider, sehingga proses pengelolaan data/ informasi dengan pihak-pihak terkait (customer/ vendor) berjalan lancar & tidak terganggu karena layanan itu mati, bisa dibayangkan jika klien tersebut adalah sebuah institusi perbankan (dimana layanan yang dibutuhkan adalah 24 jam , dengan kata lain layanan internet nya tidak boleh down (mati), dan bisa dibayangkan juga jika layanan dari perbankan itu down (mati), akibatnya dari aspek pemasaran nasabahnya dari bank tersebut tidak akan percaya , sehingga dampak yang paling tragis adalah nasabah tersebut akan berpindah kepada layanan dari bank lain ?, begitupula layanan-layanan lainnya seperti Perguruan tinggi, yang nantinya akan berdampak kepada image yang kurang baik dari perguruan tinggi tersebut.

Rincian Teknis,

Penggunaan SLA telah menyebar luas dengan penggunaan layanan manajemen TI dasar seperti SMF atau ITIL. Penggunaan umum dalam manajemen layanan TI adalah sebagai call center. Pengukuran dalam kasus-kasus ini biasanya diidentifikasi sebagai:

ü  ABA (Abandonment Average) : Sebuah persentase panggilan masuk, dimana panggilan lain di tahan, dan menjawab panggilan masuk yang lainnya
ü   ASA (Average Speed to Answer) : Rata-rata jumlah detik yang diperlukan untuk panggilan yang harus dijawab oleh pusat layanan.
ü  TSF (Time Service Factor) : Sebuah persentase panggilan dijawab dalam batas waktu tertentu, sebuah contoh yang baik adalah mengatakan 80% dalam 20 detik.
ü  FCR (First Call Resolution) : Sebuah persentase panggilan masuk yang dapat diselesaikan/ dipecahkan tanpa harus menelpon pelanggan kembali atau pelanggan tidak perlu menelpon kembali untuk menyelesaikan kasus ini.
ü  TAT (Turn Around Time) : Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Penggunaan SLA tidak terbatas pada dunia IT atau telekomunikasi – mereka juga digunakan untuk real estate, medis dan bidang apapun yang menyediakan produk atau layanan kepada pelanggan.Layanan berorientasi manusia dan bisnis memiliki kebutuhan untuk mengukur dan memikul tanggung jawab, dan SLA menyediakan pengukuran dan ide bagi entitas untuk menyepakati.



Operational Level Agreement (OLA)


Definisi OLA,

Perjanjian tingkat operasional (operational level agreement / OLA) adalah kontrak yang menentukan bagaimana berbagai kelompok TI dalam perusahaan berencana memberikan layanan atau rangkaian layanan. OLA dirancang untuk mengatasi dan memecahkan masalah silo TI dengan menetapkan seperangkat kriteria tertentu dan menentukan rangkaian layanan TI tertentu yang masing-masing departemen bertanggung jawab. Perlu dicatat bahwa istilah Service Level Agreement (SLA) digunakan di banyak perusahaan saat membahas kesepakatan antara dua kelompok internal, namun menurut kerangka Teknologi Informasi Infrastruktur Informasi (ITIL) untuk praktik terbaik, jenis kontrak internal ini harus disebut Sebuah Perjanjian Tingkat Operasional.

OLA bukan pengganti SLA. Tujuan OLA adalah untuk membantu memastikan bahwa kegiatan yang mendasari yang dilakukan oleh sejumlah komponen tim pendukung secara jelas disesuaikan untuk menyediakan SLA yang dimaksud.

Jika OLA yang berada di bawah tidak ada, seringkali sangat sulit bagi organisasi untuk kembali dan memberi persetujuan insinyur antara tim pendukung untuk mengirimkan SLA. OLA  harus dilihat sebagai dasar praktik yang baik dan kesepakatan bersama.

Perbedaan SLA dan OLA,

1.  Service Level Agreement berfokus pada bagian layanan dari perjanjian, seperti uptime layanan dan kinerja. Di sisi lain, Perjanjian Tingkat Operasional adalah kesepakatan sehubungan dengan pemeliharaan dan layanan lainnya.
2.   Service Level Agreement pada dasarnya adalah kontrak antara penyedia layanan dan pelanggan. OLA adalah kesepakatan antara kelompok pendukung internal sebuah institusi yang mendukung SLA.
3.    Saat membandingkan kelompok sasaran, OLA memiliki kelompok sasaran lebih kecil daripada SLA.
4.    Berbeda dengan OLA, SLA menghubungkan penyedia layanan ke pelanggan.
5.    Perjanjian Tingkat Operasional lebih bersifat teknis daripada Service Level Agreement.


Contoh Kasus SLA

Hubungan antara business users dan Departemen TI dalam rangka penyediaan dan penyelenggaraan layanan umumnya tidak mengandal kan kesepakatan tingkat layanan (SLA). Padahal keberadaan SLA dapat menjadi dasar pengukuran dan standar tingkat layanan yang dibutuhkan oleh business users sperti ketersediaan layanan (availability) dan respon times. Utamanya hal ini diperlukan untuk aplikasi-aplikasi kritikal dan core seperti Global Purchase Order (GPO) yang di implmentasikan pada Perusahaan XYZ. Oleh karenanya perlu ditelaah mekanisme dan prosedur yang terkait pengembangan SLA. Dalam pengembangan SLA ini misalnya memperhatikan penerjemahan kebutuhan pengguna, survey dan wawancara untuk menangkap kebutuhan spesifik dari pengguna, analisa arsitektur layanan untuk mengidentifikasi komponen-komponen untuk tercapainya SLA, serta analisa proses bisnis untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan terhadap proses-proses yang berjalan di perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Proyek Akhir ini mengembangkan kerangka pengelolaan SLA agar dapat membantu penerapan penyelenggaraan layanan TI di lapangan. Namun proyek ini tidak mencakup implementasi kerangka pengembangan SLA yang disempurnakan. Untuk implementasi lebih lanjut, kerangka ini perlu diuji dan di evaluasi bersama dengan kedua belah pihak penyedia dan pengguna layanan agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan disepakati.






Daftar Pustaka

https://en.wikipedia.org/wiki/Service-level_agreement
http://debbychodati07.blogspot.co.id/2012/04/sla-service-level-agreement.html
https://bambangsuhartono.wordpress.com/2013/07/26/pengertian-dan-cara-perhitungan-sla-service-level-agreement/
https://en.wikipedia.org/wiki/Operational-level_agreement
http://whatis.techtarget.com/definition/operational-level-agreement-OLA





Rabu, 17 Mei 2017

Perbandingan 3 Framework PHP Symfony,Zend dan CodeIgniter

Saya akan membahasa dan membandingkan 3 framework PHP.


                Pertama kita akan membahasa , Apa itu Framework ?

Framework adalah sebuah kerangka kerja, dimana kerangka kerja tersebut dapat memudahkan pekerjaan kita. Terutama untuk para programmer membuat aplikasi atau web yang isinya adalah berbagai fungsi,plugin dan konsep sehingga membentuk suatu system tertentu.

   Apa itu Framework PHP ?

Framework PHP adalah sebagai suatu kerangka kerja yang telah terpola dan memudahkan pengembang web dalam pembuatan web yang menggunakan script PHP.framework PHP sudah mengatur sedemikan efisien pola-pola tertentu dengan class (yang meringankan kita dalam penulisan script dan load halaman web).

PHP framework berbeda jika kita bandingkan dengan CMS, kalau PHP framework kita membuat web dengan menggunakan script atau kode-kode tertentu,sedangkan CMS mebuat web tidak harus menggunakan script atau koe-kode tertentu.

PHP Framework menggunakan metode pengembangan berbasis MVC (Model,View,Controller) ,merupakan suatu metode untuk memisahkan bagian-bagian dari suatu web aplikasi.


Pembahasan dan perbandingan 3 Framework PHP,

1.     Symfony


Symfony adalah salah satu framework php yang bersifat open source (gratis),symfony juga berbasis OOP(object oriented programming).

Beberapa istilah,teknologi dan metodologi yang digunakan oleh symfony:

·   ORM, Object Relational Mapping, Suatu metode dimana anda (diharapkan) tidak “menyentuh” data (database) secara langsung. Namun sebagai gantinya anda akan menggunakan objek-objek yang menjadi interface program anda dengan database.
·    YML, Bagi anda yang sudah familiar dengan XML, seharusnya tidak ada masalah dengan YML. YML, seperti halnya XML, YML adalah file penyimpan data dengan format dan aturan tertentu. YML dibanding XML, lebih simple dalam hal penulisan, karena tidak mengenal tag. Tag dalam XML digantikan dengan spasi di YML.
·   CRUD, Create, read, update and delete. Aplikasi paling bagus, canggih dan unik sekalipun, pasti memiliki dan atau mengkombinasikan empat kemampuan dasar ini. Buat, baca, sunting, hapus. Symfony dapat membuat kemampuan dasar ini jauh lebih mudah dan cepat.Dan masih banyak lagi lainnya.


Kelebihan :

1.       Dukungan terhadap AJAX,ORM.
2.       Kompatibel dengan berbagai macam database.
3.       Cepat,mudah diadaptasikan.
4.       Mudah dikembangkan dan diperluas.

Kekurangan :

1.       Tidak mendukung PHP4.
2.       Relative butuh waktu lama untuk mengerti framework ini.
3.       Instalasi dan konfigurasinya cukup rumit.

2.     ZEND


Zend Framework didasarkan pada kesedrhanaan,berorientasi objek, lisensi ramah perusahaan. Zend Framework difokuskan pada membangun web lebih aman,handal dan modern. Zend juga memiliki karakteristik modular dan lengkap. Framework ini seringkali menjadi sandaran bagi situs-situs besar seperti Ning,Google,Amazon dan Flickr.

           Kelebihan :

1.       Dukungan terhadap AJAX,ORM.
2.       Focus dari Zend framework ini adalah untuk membangun aplikasi berbasis web dan untuk memudahkan dalam mengakses API dari berbagai vendor seperti Google,Amazon, Yahoo dll.
3.       Bersifat open source.
4.       Menggunakan kode berorientasi objek.

Kekurangan :

1.       Tidak mendukung PHP4.
2.       Manual yang ada kurang mengakomodasi kebutuhan.
3.       Performanya relative lambat.
4.       Framework ini cocok untuk programmer dengan kemampuan tinggi.


3.     CodeIgniter


Codeigniter adalah Framework pengembang aplikasi yang digunakan oleh para web developer dalam membangun web. Tujuannya adalah untuk memungkinkan anda untuk mengembangkan proyek-proyek jauh lebih cepat dari yang anda bisa. Codeigniter memungkinkan anda kreatif focus pada proyek dengan meminimalkan jumlah kode yang dibutuhkan untuk tugas yang diberikan.

            Kelebihan :

1.       Mudah digunakan dan tidak memerlukan konfigurasi yang rumit.
2.       Fungsi-fungsi pendukung yang cukup lengkap.
3.       Mendukung PHP4 dan PHP5.
4.       Merupakan Framework MVC popular dan paling banyak digunakan.
5.       Dokumentasi sangat bagus.
6.       Menghemat waktu 2 kali lipat.
7.       Security lebih kuat.
8.       Kode program lebih rapih.

Kekurangan :

1.       Tidak menggunakan AJAX,ORM.
2.   Menyediakan dan memisahkan MVC pattern tapi masih memberikan kebebasan untuk melanggar aturan MVC.

Perbandingannya, kalau Symfony dia cepat namun instalasi konfigurasinya rumit, sedangkan Zend powerfull karena dukungan library banyak,yang membuat rumit pada konfigurasi awalnya yang harus via terminal,untuk load nya juga sedikit berat. Kalau CI (codeigniter) lebih ringan ,walaupun library nya tidak sebanyak Zend, dan CI tidak perlu setting via terminal terlabih dahulu.

Daftar Pustaka

http://www.devaradise.com/id/2013/12/mengenal-pengertian-framework-website.html
http://tutorial.dumbstrack.org/mengenal-framework-php-dan-jenisnya/
https://cepilitok.wordpress.com/2009/03/24/apa-itu-symfony/
https://phphanifa.wordpress.com/2008/04/27/symfony-bab-1-perkenalan/
https://en.wikipedia.org/wiki/Object-relational_mapping
https://en.wikipedia.org/wiki/Create%2C_read%2C_update_and_delete
https://en.wikipedia.org/wiki/YML
http://konangweb.com/read-22-pengertian-framework.html
http://pemrogramanwebframework.blogspot.co.id/2015/03/perbandingan-antara-cms-dan-                   php_4.html
http://tutorial.dumbstrack.org/mengenal-framework-php-dan-jenisnya/


Kamis, 20 April 2017

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL

AUDIT SISTEM INFORMASI PADA SISTEM INFORMASI AKADEMIK PERSPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL BALANCED SCORECARD DAN STANDAR COBIT 4.1
(STUDI KASUS: STMIK SINAR NUSANTARA SURAKARTA)

Penulis :  Setiyowati dan Sri Harjanto

Tujuan  : Untuk melihat seberapa efektif nya penggunaan metode CobiT dalam penggunaan system informasi di sebuah Universitas berbasis STMIK.

No. Jurnal : ISSN : 1693-1173

Kesimpulan

            Penggunaan Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan sudah semakin  meningkat, selain dapat meningkatkan keefektifitasan juga dapat menangani beberapa masalah dalam hal system informasi. Dalam hal ini penulis meneliti sebuah universitas berbasis STMIK sinar Nusantara Surakarta dalam hal system informasi keuangan, KRS Online, dan Penerimaan Mahasiswa baru. STMIK ini sudah menggunakan Teknologi Informatika dalam pengembangan KRS online,Keuangan dan Penerimaan Mahasiswa baru, dan para peneliti memulai penelitian untuk mengetahui selaras atau tidak penggunaan CobiT dengan konsep yang digunakan yaitu ERP (Enterprise Resource Planning) dengan mengacu pada Balanced Scorecard..
            CobiT (control Objective For Information and Related Technology) sendiri merupakan standar yang menyediakan kerangka kerja yang terdiri dari sekumpulan proses TI yang dikelompokkan menjadi 4 domain, yakni:
1.      Plan and Organise(PO)
2.      Acquire and Implement(AI)
3.      Deliver and Support(DS)
4.      Monitor and Evaluate(ME)
Jadi , para peneliti menggunakan 4 domain ini untuk mengetahui ukuran keselarasan antara tujuan Teknologi Informasi dalam memberikan kontribusi terhadap kinerja bisnis STMIK tersebut, antara proses bisnis,aplikasi dan strategi bisnis perusahaan maka dilakukan Audit system informasi dengan mengacu pada Balance Scorecard.
            Standar CobiT ini digunakan oleh peneliti karena dapat memberikan sebuah gambaran yang sangat detail atau tersusun dalam hal proses Teknologi Informasi/Sistem Informasi,dengan menggunakan 4 domain tersebut.Sedangkan penggunaan Balanced Scorecard (BSC) ini digunakan untuk pengaturan kartu skor dalam mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan antara faktor keuangan dan non-keuangan baik jangka pendek maupun panjang serta kondisi internal maupun eksternal. Maka penelitian yang digunakan adalah Balanced Scorecard (BSC). Tujuan dari audit sendiri adalah untuk melaporkan tingkat kesamaan atau keselarasan antara nilai dari informasi tersbut dengan batas ukuran yang sudah menjadi kriteria dalam penilaian tersebut.
            Peneliti ini menggunakan 4 domain dlam melakukan audit nya, pertama peneliti merencanakan perancangan aplikasi bisnis tersebut kemudian di implementasikan dan diukur akurasi nya terhadp hasil auditnya. Setelah itu metode CobiT melakukan pengiriman data hasilnya kepada audit untuk diperiksa dan mengirimkan apa saja pendukun aplikasi tersebut, setelah audit menerima, maka audit akan mengevaluasi hasilnya untuk ditentukan apakah penggunaan teknologi informasi di STMIK Sinar Nusantaara Surakarta sudah seimbang atu belum.
            Hasil dari evaluasi pelaksanaan system audit tersebut nantinya akan berisi hasil kinerja dari proses proses yang ada, dan akan dilaksanakan perbaikan proses jika ada ketikseimbangan dalam penggunaan system tersebut. Biasanya laporan akhir darisebuah audit berupa gambaran yang membuat pihak peneliti mengambil langka yang di perlukan.

Adapun fakta-fakta yang telah sesuai dengan standard Cobit diantaranya adalah:

1. Terdapat prosedur penanganan permasalahan.
2. Terdapat pengelolaan pelatihan dan pendidikan bagi user / pengguna maupun staff.
3. Terdapat standar target dalam penyelesaian permasalahan.
4. Terdapat analisis penyebab permasalahan yang rutin dilaksanakan.
5. Terdapat pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan insiden. Organisasi menyediakan sumber daya untuk menyusun dasar pendukung IT dan aktivitas operasi.
6. Keberlangsungan layanan diperhatikan oleh pihak manajemen

Sedangkan fakta-fakta yang masih perlu diperbaiki lagi diantaranya adalah:

1. Tidak ada pendukung berupa aplikasi untuk mendukung pengelolaan insiden.
2. Proses perubahan manajemen secara berkala belum pernah ditinjau.
3. Tidak memiliki Frequently Asked Questions (FAQ).
4. Belum adanya survey kepuasan pelanggan terhadap Sistem Informasi Akademik.
5. Pelaksanaan studi banding ke industri yang sejenis belum dilakukan secara rutin.

Maka pihak STMIK mengusulkan rekomendasi penggunaan untuk menanggulangi fakta yang masih harus diperbaiki.
1.      Pihak akademik harus menyediakan aplikasi mendukung pengelolaan insiden.
2.      Harus melakukan peninjauan ulang secara rutin selama pelaksanaan,
3.      Melakukan survey kepuasan terhadap pelanggan seberapa efektif nya program ini.
4.      Melakukan perbandingan dengan organisasi lain.
Jadi secara keseluruhan perhitungan tingkat kematangan dari keseluruhan proses tersebut adalah sudah terdefinisi atau sudah baik dalam penggunaannya.

LINK JURNAL :
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwibnJS4xLTTAhWHMo8KHTRDAf0QFggiMAA&url=http%3A%2F%2Fp3m.sinus.ac.id%2Fjurnal%2Findex.php%2Fe-jurnal_SINUS%2Farticle%2Fdownload%2F207%2Fpdf&usg=AFQjCNGczFtB052NiRf2gXO3XSnCKjEReA&sig2=BQ2zJGpe2W8ubNizCnOROA




Kamis, 06 April 2017

Status Proses


Status Proses 


Saat-saat proses dijalankan (executed) maka status dari proses akan berubah
·         Status proses tidak selamanya aktif menggunakan CPU).
·          Sering proses menunggu I/O complete => status wait, sebaiknya CPU diberikan kepada proses yang lain.
·          Mendukung multi-tasking – utilisasi CPU dan I/O  
Status proses (antara lain):
·         New                      : proses dibuat.
·          Running              : instruksi dieksekusi.  
·         Waiting                : proses menunggu beberapa event yang akan terjadi  
·         Ready                   : proses menunggu jatah waktu dari prosessor  
·         Terminated        : proses selesai dieksekusi.


Diagram Status Proses